Vertanews - Portal Berita Terbaru Berita Viral Terbaru
Foto
Ilustrasi konvoi pasukan Turki di Idlib. Foto: Anadolu

Konvoi Pasukan Turki di Suriah Diserang, AS: Rezim Assad Harus Memenuhi Kesepakatan Genjatan Senjata

Amerika Serikat melalui juru bicara Departemen Luar Negeri, Morgan Ortagus mengutuk serangan udara yang menargetkan konvoi militer Turki dan warga sipil di Idlib, Suriah.

Bahkan dia merilis pernyataan kecaman terhadap serangan udara yang menyerang warga sipil dan konvoi pos pengamatan Turki yang sedang berpindah tempat dari satu daerah ke daerah lain di Idlib. 

"Rezim Assad dan sekutunya harus segera kembali mematuhi kesepakatan gencatan senjata di Idlib,” ujar Ortagus dalam pernyataan tertulis melalui akun twitternya, seperti dilansir dari Kantor Berita Turki, Anadolu, Selasa 20 Agustus 2019.

Setelah menyerang konvoi pasukan Turki, Ortagus menambahkan, pasukan rezim Assad tersebut  juga melancarkan serangan terhadap warga sipil, petugas kemanusiaan dan bangunan milik publik.

Pasukan Assad pada Senin, 19 Agustus 2019 tersebut juuga telah melakukan tiga serangan udara terhadap konvoi pos pengamatan Turki yang sedang berpindah tempat dari satu daerah ke daerah lain di distrik Maarat al-Nu'man, Idlib, Suriah.

Kementerian Pertahanan Turki mengumumkan lewat sebuah pernyataan bahwa serangan udara tersebut menewaskan tiga warga sipil dan melukai 12 lainnya. Lebih lanjut, pernyataan dari kementerian itu juga mengutuk keras serangan yang bertentangan dengan perjanjian, kerja sama dan dialog dengan Rusia sebelumnya.

Selanjutnya, Direktur Koordinasi Penanganan Suriah, Muhammad Hallaj, mengatakan setelah rezim Assad dan pendukungnya memasuki selatan perbatasan distrik Han Sheikun pada waktu perayaan Idul Adha, sekitar 124.000 warga sipil selatan Idlib mengungsi ke perbatasan Turki. 

Dia menambahkan jika serangan pasukan Assad dan Rusia berlanjut ke distrik Serakib dan Maarratinnuman, maka diperkirakan jumlah pengungsi dapat mencapai satu juta jiwa.

Menyusul pertemuan 17 September 2018 lalu di Sochi antara Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dan Presiden Rusia Vladimir Putin. Dalam pertemuan tersebut, keduanya sepakat membangun zona demiliterisasi di mana tindakan agresi dilarang secara tegas  di Idlib.

Dalam kesepakatan tersebut, dikatakan kelompok-kelompok oposisi di Idlib diizinkan untuk tetap menempati wilayah, sementara Rusia dan Turki mulai melakukan patroli gabungan di daerah itu untuk mencegah pertempuran kembali meletus.

Sejalan dengan kesepakatan Sochi, dituliskan kelompok oposisi menarik persenjataan berat mereka dari daerah tertentu di Idlib sejak 10 Oktober 2018 lalu.

Sekedar informasi, Suriah baru saja mulai keluar dari konflik dahsyat yang dimulai pada 2011 ketika itu rezim Assad menindak keras para demonstran. Sejak itu, juga, dilaporkan  puluhan ribu orang tewas dalam konflik sementara jutaan lainnya terpaksa mengungsi. (Ahmad Mikail Diponegoro)


Share to: