Vertanews - Portal Berita Terbaru Berita Viral Terbaru
Foto
Foto: Youtube Batik TilaseRon

Mengenal Batik TilaseRon yang Terbuat Dari Daun dan Mendunia

Soal batik-membatik memang Indonesia tidak diragukan lagi. Sehingga lembaga dunia UNESCO yang menaungi tentang Pendidikan, Keilmuan dan Kebudayaan mengakui bahwa batik adalah milik Indonesia.

Beberapa daerah di Indonesia memiliki karya batik yang berbeda-beda. Seperti batik megamendung asal Cirebon, batik tujuh rupa milik Pekalongan, batik parang rusak, batik keraton dan batik-batik lainnya yang memiliki motif unik disetiap daerah.

Bercerita tentang batik sendiri, ternyata ada batik unik yang mampu mendunia asal Indonesia. Batik ini sendiri berasal dari Desa Maitan, Kecamatan Tambakromo, Kabupaten Pati, Jawa Tengah.

Dian Mayasari, seorang ibu yang memperkenalkan sebuah industri kain batik Tilaseron. Batik ini memiliki keunikan karena terbuat dari limbah daun (Tilas Ron) dan kini mulai mendunia.

Kisah perjuangan Dian Mayasari sendiri berawal dari tahun 2002, kala itu ia dibawa suaminya dari Blora ke Dukuh Pagergunung, Desa Maitan. Kondisi Desa itu sendiri sangat mengenaskan, airnya hanya mengandalkan musim hujan dan banyak warganya merantau ke luar Jawa. Faktor tersebut disebabkan tidak memadainya sumber penghidupan.

"Setiap malam saya berdoa. Menangis kepada Tuhan, semoga Desa Maitan diberi keberkahan," ucap Dian Mayasari dengan media.

Namun seiring waktu berjalan, Dian menemukan ide untuk membuat kain batik dari sistem ecoprint. Sistem ini memanfaatkan daun (Ron) dan dahan sebagai bahan membuat kreasi batik yang khas. Ibu dari dua putri ini kemudian mengajak remaja putri desanya untuk membentuk organisasi pemberdayaan yang diberi nama Mulya Jaya.

"Kami bikin batik Tilaseron, berasal dari kata 'tilase' yang berarti tapak dan 'ron' yang berarti daun. Jadi artinya batik tapak daun," sebut Dian.

Dalam pembuatannya sendiri, Batik Tilaseron tanpa menggunakan lilin. Namun menggunakan steam, yaitu dengan cara dikukus dan di founding atau dengan cara dipukul-pukul dengan palu. Cara ini untuk memanjakan konsumen dalam memilih tapak daun yang diinginkan.

Kehadiran Tilaseron memberikan pilihan tambahan bagi penggemar kain batik yang semula sangat meminati jenis batik Solo ataupun Pekalongan.

Per-hari mampu membuat delapan potong kain batik, terbilang sangat sedikit karena dalam pengerjaannya membutuhkan ketelitian dan kesabaran. Dian juga bercerita pada bulan Agustus lalu, karyanya ini mampu menyabet juara dua dalam event pameran batik nasional di Bandung.

Remaja Desa Maitan semakin bersemangat membuat batik Tilaseron karena karyanya kini mulai diminati pasa Internasional.


Share to: