Foto
Presiden ke-3 Bahruddin Jusuf Habibie (BJ Habibie). Foto: Ist

BJ Habibie Tokoh Dibalik Kemajuan Pembangunan Pulau Batam

Indonesia tengah berduka karena baru saja ditinggalkan oleh seorang yang sangat jenius. Bacharuddin Jusuf Habibie atau yang lebih dikenal dengan BJ Habibie telah wafat pada Rabu 11 September 2019 di RSPAD Gatot Subroto, Jakarta.

Selain dikenal sebagai Presiden ke-3 Republik Indonesia, Habibie juga dikenal seorang negarawan sejati, Bapak Teknologi, dan Bapak Demokrasi. Khusus bagi warga Batam, Kepulauan Riau, Habibie dikenal sebagai Bapak Pembangunan.

Dengan kejeniusan yang dia miliki, Habibie mengubah Pulau Batam menjadi kota yang sangat moderen dan salah satu kawasan industri yang patut diperhitungkan oleh dunia. Saat itu, Habibie sangat jeli melihat letak geografis pulau tersebut yang sangat dengan negara Singapura yang sudah sangat maju.

Selain itu, Kota Batam yang saat ini menjadi bagian dari Kepulauan Riau ini sangat dekat dengan Selat Malaka dan memutuskan bahwa industri yang tepat dibangun galangan kapal yang menjadi awal dari pembangunan insfrastruktur di kota itu.

Selain itu, Habibie saat itu juga memperhitungkan jumlah penduduk Batam dan membangun semua sarana penunjang lainnya disertai tata letak yang sudah dihitung dengan matang. Seperti, perkantoran, perumahan, dan hutan lindung.

Bisa dikatakan, saat itu dia dalam membangun Pulau Batam yang saat ini menjadi Kota Batam dan masuk dalam salah satu bagian dari Kepulauan Riau, tidak untuk satu atau dua tahun. Tapi untuk puluhan tahun yang akan datang. 

Menanggapi hal tersebut,  Dendi Purnomo, salah satu mantan karyawan Otorita Batam yaitu perusahaan yang bertugas membangun Pulau Batam dan saat ini berganti nama menjadi Badan Pengusahaan Batam.  

Dia mengatakan, saat itu Habibie memberikan arahan di Wisma Batam pada tahun 1994 dengan evaluasi Master Plan Batam.

"Saya masih ingat waktu menjadi staf Otorita Batam, waktu itu BJH memberi arahan di Wisma Batam malam hari pada tahun 1994, memberikan arahan evaluasi Master Plan Batam," kata Dendi Purnomo, dilansir dari Antara, Jakarta, Kamis 12 September 2019.

Dikesempatan yang sama, Dendi mengenang bahwa Habibie pernah menyampaikan impiannya untuk menyatukan dan memajukan Indonesia menggunakan Teori Balon. Teori Balon adalah, dia menjelaskan berangkat dari sebuah asumsi dari luas Singapura yang hanya seluas 500 km akan memasuki sebuah era jenuh.

Jika itu terjadi,  dia menjelaskan kembali, Singapura akan kehilangan taringnya sebagai tempat investasi dan membutuhkan perluasan. Batam, menurut Habibie adalah tempat yang paling pas untuk sebagai tempat perluasan investasi para investor yang "bermain" di Singapura.

Selain tempat yang pas untuk berinvestasi, Dendi menyampaikan impian Habibie selanjutnya, yaitu ingin menghubungkan Pulau Batam, Rempang, Galang, dan Bintan dengan jembatan. Selanjutnya, pulau-pulau tesebut akan dihuni oleh 10 persen penduduk Indonesia yang mampu bersaing dengan negara maju lainnya. 

"Habibie menyampaikan cita-cita pengembangan Barelangbin yang akan dihuni 10 persen penduduk Indonesia, mampu bersaing dengan negara maju dengan keunggulan komparatif dan kompetitif yaitu SDM yang unggul, serta lingkungan yang terjaga," ujarnya.

Terbaru, tepat pada awal 2019, BJ Habibie pernah menyampaikan sebuah harapan terhadap Batam. Harapan tersebut adalah ingin ingi menjadikan Batam yang saat ini merupakan bagian dari Kepulauan Riau ini sebagai pusat dirgantara Indonesia. (Ahmad Mikail Diponegoro)


Share to: