Foto
Foto : politico.com

Mantan Dubes AS, Paul Wolfowitz Ungkap BJ Habibie Tidak Diterima Amerika

Mantan Dubes Amerika Serikat di Jakarta Paul Wolfowitz pernah mengungkapkan ketidaksetujuan terhadap sosok Habibie. Salim Said, mantan Dubes RI untuk Ceko, mengungkapkan hal ini dalam buku 'Dari Gestapu ke Reformasi'.

"Habibie tidak akan diterima oleh Amerika," cetus Paul di sela acara jamuan makan malam di rumah dinas Dubes RI Dorodjatun Kuntjoro-Jakti di Washington.

Salim, yang duduk semeja, mengaku tersentak dan tersinggung. Ia menukas dengan kesal  "Sejak kapan Presiden Indonesia ditentukan oleh Washington?".

Dalam wawancara dengan Asian Wall Street Journal (ASWJ), Habibie sempat mengungkapkan rasa kecewa terhadap Negara Singapura. Sebab, sebagai salah satu negara tetangga terdekat, Perdana Menteri Goh Chok Tong justru terlambat mengucapkan selamat atas jabatan baru Habibie sebagai presiden. Habibie menilai Singapura tidak menganggap Indonesia sebagai sahabat di tengah krisis ekonomi.

"Tidak apa-apa, tapi ada 211 juta orang (di Indonesia). Semua (wilayah) yang hijau adalah Indonesia dan titik merah (little red dot) itu adalah Singapura," kata Habibie sambil menunjuk ke arah peta di ruang kerjanya. ASWJ menerbitkan hasil wawancara itu pada 4 Agustus 1998.

Namun dalam pidato kenegaraan, 23 Agustus 1998, Goh menepis tudingan Habibi bahwa dirinya terlambat menyampaikan ucapan selamat dan tak peduli terhadap krisis yang terjadi. "Kami hanya memiliki tiga juta penduduk. Singapura hanyalah titik merah kecil di peta. Bagaimana mungkin kami bisa menolong 211 juta penduduk Indonesia?" kata Goh menyindir.

Lima tahun setelah tak menjadi presiden, Habibie menulis otobiografi 'Detik-detik Yang Menentukan: Jalan Panjang Indonesia Menuju Demokrasi'. Di halaman 308 buku itu ditulis bahwa Lee Kuan Yew meminta maaf dan menyampaikan pujian kepada dirinya.


Share to: