Vertanews - Portal Berita Terbaru Berita Viral Terbaru
Foto
Foto: Istimewa

Kisah Gadis Yang Tewas Dibakar, Ribuan Orang Tangisi Pemakaman Hingga Pelaku Dihukum Mati

Kasus-kasus pelecehan asusila menjadi "momok" bagi para sebagian besar wanita di kawasan Asia Selatan.

Sebab, berbalik 180 derajat dengan para wanita khususnya para korban, masyarakat di kawasan ini justru cenderung menganggap pelecehan sebagai hal yang biasa.

Ada beberapa korban yang justru dikucilkan karena melaporkan pelecehan yang dialaminya.

Seperti gadis asal Bangladesh bernama Nusrat Jahan Rafi yang sedang berjuang melawan pelecehan  yang dilakukan seorang kepala sekolah terhadap dirinya justru membuat dirinya dibakar hidup-hidup.

Namun, pada Kami, 24 Oktober 2019, kisah kelam gadis yang pada pemakamannya dihadiri ribuan orang tersebut 'berbuah' balasan setimpal untuk 16 orang pelaku. 

Sebuah balasan yang dianggap sebagai tonggak sejarah Bangladesh dalam menghadapi kasus pelecehan.

Sebelumnya, pada 6 April 2019 lalu, korban yang masih SMA disiram bensin dan dibakar teman-temannya.

Gadis itu sempat dilarikan ke rumah sakit, namun karena luka bakar yang dialaminya sangat parah, nyawanya tak dapat diselamatkan.

Pada 27 Maret, kepala sekolah memanggilnya ke ruangannya, di sana ia berulang kali disentuh dengan cara tak pantas.

Banyak gadis di Bangladesh yang memilih tutup mulut untuk merahasiakan pelecehan yang mereka alami, namun tidak dengan Nusrat.

Dengan bantuan keluarga, Nusrat pergi melaporkan pelecehan yang dialaminya ke polisi. Di kantor polisi setempat Nusrat memberikan pernyataan.

Namun, dia justru direkam oleh petugas yang tak bertanggung jawab.

Nusrat tampak tertekan dan berusaha menyembunyikan wajahnya dengan tangannya.

Polisi terdengar mengatakan "bukan masalah besar" dan menyuruhnya untuk tidak menutupi wajahnya. Video itu kemudian bocor ke media lokal.

Setelah menerima laporan Nusrat, kepala sekolah itu ditangkap pada 27 Maret 2019.

Namun justru itu menjadi awal yang buruk bagi Nusrat.

Sekelompok orang berkumpul di jalan menuntut pembebasan sang kepala sekolah. Diduga aksi protes itu direncanakan oleh dua murid laki-laki dan politisi lokal.

Dikutip dari BBC, menurut sebuah pernyataan yang diberikan oleh Nusrat, seorang murid perempuan membawanya ke atap sekolah dengan mengatakan bahwa salah satu teman Nusrat dipukuli.

Namun ketika Nusrat mencapai atap sekolah, ada empat atau lima orang mengenakan burqa yang langsung mengelilinginya.

Sekelompok orang itu meminta Nusrat untuk menarik kembali laporan yang ia buat terhadap kepala sekolah. Ketika Nusrat menolak, mereka membakarnya.

Kepala Biro Investigasi Polisi Banaj Kumar Majumder mengatakan para pembunuh itu ingin "membuatnya terlihat seperti bunuh diri". Rencana mereka gagal ketika Nusrat diselamatkan setelah mereka melarikan diri dari tempat kejadian.

Di ambulans, Nusrat yang takut tidak akan selamat merekam suaranya tentang pernyataan di ponsel saudara laki-lakinya.

"Guru itu menyentuhku, aku akan memerangi kejahatan ini sampai napas terakhirku," demikian yang Nusrat katakan.

Gadis itu juga mengidentifikasi beberapa penyerangnya adalah murid sekolahnya.

Sejak itu, berita tentang Nusrat mendominasi media Bangladesh

Di antara mereka yang ditangkap adalah dua siswa laki-laki yang mengorganisir protes untuk mendukung kepala sekolah sementara kepala sekolah sendiri tetap ditahan.

Polisi yang merekam Nusrat saat gadis itu melakukan pengaduan pelecehan telah dicopot dari jabatannya dan dipindahkan ke departemen lain.

Pada akhirnya, kasus Nusrat menjadi tonggak sejarah penanganan kasus pelecehan di Bangladesh secara khusus dan Asia Selatan secara umum.

Kematiannya memicu kengerian di seantero Bangladesh, dengan pengunjuk rasa turun ke jalan dan meminta "hukuman berefek jera" dalam tuntutannya.

Pembunuhan itu memberikan tekanan bagi pemerintahan Perdana Menteri Sheikh Hasina, di mana dia memerintahkan 27.000 sekolah membentuk komite mencegah kekerasan asusila.

Titik balik terkuat dari penanganan kasus pelecehan terjadi ketika 16 orang pelaku akhirnya dijatuhi hukuman terberat yang mungkin mereka peroleh.

Mereka dihukum mati oleh pengadilan Bangladesh karena terbukti secara hukum berencan menghabisi nyawa Nusrat.

Pemberian hukuman mati kepada 16 pelaku, seperti dikatakan Jaksa Hafez Ahmed, menunjukkan bahwa siapa pun tidak akan lari dari hukum jika sudah membunuh.

Di antara mereka yang dihukum mati, terdapat Siraj Ud Doula, kepala sekolah yang memerintahkan supaya Nusrat dibakar bidup-hidup.

Selain Doula, terdapat dua guru dan dua teman sekelas Nusrat, yang terlibat dalam pembunuhan dengan cara menjaga agar dia tak kabur.


Share to: