Foto
Mengulik Kembali Bangunan Rumah Buatan VOC di Batavia. Foto: Dok Djakarta Tempo Doeloe

Kemarin, Sabtu tanggal 22 Juni, Ibukota Jakarta merayakan ulang tahunnya yang ke-492 tahun dan dimeriahkan oleh bebragai hiburan yang telah disiapkan oleh pemerintah setempat.

Sebelumnya, dilansir dari laman instagram @jktinfo, Sabtu kemarin baru saja dilangsungkan acara puncak HUT DKI Jakarta dengan tajuk "Wajah Baru Jakarta". Acara yang bertempat di kawasan Bundaran HI tersebut dimulai pukul 19.40 WIB.

Pada umurnya yang sudah 4 abad lebih itu, pastinya Ibu Kota Jakarta juga sudah banyak berubah.

Masih banyak memang monumen dan bangunan yang sudah berdiri sejak dulu yang bertahan hingga sekarang di ibu kota negara Republik Indonesia ini, contohnya bangunan-bangunan peninggalan VOC Hindia Belanda.

Orang-orang VOC diketahui merebut Jaccatra pada tahun 1619. Mendirikan kota pelabuhan baru bernama Batavia di atas puing-puing Jaccatra. Batavia dikonsepkan sebagai kota berbenteng, mirip dengan tipologi kota-kota di Eropa. Di dalam benteng, orang-orang VOC mendirikan aneka bangunan: kantor dagang atau pemerintahan, gudang penyimpanan, dan rumah.

Kebanyakan bangunan tersebut mengambil model dari Negeri Belanda dan contoh-contoh bangunan peninggalan Portugis, rival VOC di Asia.

VOC tidak menentukan standar estetik atas bangunan mereka. Mereka juga enggan berkiblat pada visi arsitektur tertentu. Karena itulah bangunan VOC “tidak dirancang untuk menjadi objek-objek arsitektur bergengsi,” tulis Cor Passchier dalam “Arsitektur Kolonial di Indonesia: Rujukan dan Perkembangan” termuat di Masa Lalu dalam Masa Kini Arsitektur Indonesia seperti yang dilansir dari laman Historia.

Bangunan VOC Kurang Nyaman dan Panas

VOC menggarisbawahi bahwa rancangan bangunan harus memenuhi persyaratan elementer dan fungsional. Ciri-ciri bangunan milik VOC antara lain bagian depan rata tanpa beranda, jendela besar, dinding bata berplester, atap genting merentang sejajar dengan jalan, dan bukaan ventilasi silang sangat sedikit. Bangunan seperti ini berbeda jauh dari langgam bangunan penduduk tempatan.

Kebanyakan bangunan penduduk tempatan terbuat dari kayu, bambu, dan beratap rumbia. Kehadiran bangunan berbahan bata dengan teknik dan metode dari Eropa cukup menarik perhatian penduduk tempatan. Dengan perbedaan bangunan seperti itu, orang-orang VOC menarik garis pemisah dan memamerkan keunggulan atas penduduk tempatan.

Tetapi gengsi sebagai orang VOC berharga mahal. Bangunan rancangan VOC mempunyai masalah dari segi kenyamanan. Saat terang hari, sinar matahari akan langsung masuk melalui jendela besar dan lebar. Menyebabkan udara di dalam bangunan menjadi panas dan terkumpul hingga sore.

Rumah Kebun (Landhuizen)

Pejabat-pejabat tinggi VOC di Batavia berlainan visi dan selera dari pegawai-pegawai rendahan dalam membangun rumah. Mereka membangun rumah megah di pinggiran kota dan berlomba menunjukkan kekayaan melalui rumah. Salah satunya rumah milik Reinier De Klerk di pinggiran Batavia pada 1760 (sekarang berada di Jalan Gajah Mada, Jakarta Barat, dan sempat menjadi kantor Arsip Nasional Republik Indonesia).

Rumah Reinier bertingkat satu. Ada halaman depan dan belakang yang luas. Kebun-kebunnya ditanami beragam jenis tanaman. Sangat asri dan berguna bagi penghuni dan tetamu rumah. Serambinya memang masih tertutup dan tidak terlalu luas. Tetapi desain keseluruhan rumah sudah mempertimbangkan iklim tropis. “Dengan langit-langit tinggi dan lantai bermarmer atau berubin,” terang Adolf Heuken dalam Tempat-Tempat Bersejarah di Jakarta.

Contoh lain perwujudan kekayaan dan kemakmuran pejabat VOC tampak dalam rumah di kawasan Weltevreden (sekarang Lapangan Banteng dan Monas, Jakarta Pusat). Kawasan ini dulu benar-benar rimbun sehingga harga tanah sangat murah.

“Rumah dan tamannya mirip (istana, red.) Versailles. Bangunan utamanya terdiri atas dua lantai. Kemewahan masih ditambah dengan dekorasi pahatan atap dalam wujud rajawali-rajawali besar,” tulis Cor Passchier.

Herman Willem Daendels, Gubernur Jenderal Hindia Belanda (1805—1811), merencanakan sebuah kota baru di Weltevreden. Dia juga memerintahkan setiap bangunan di sana memiliki langgam neo-klasik dengan kolom (pilar bergaya ionik, dorik, dan corinthian) agar menunjukkan kewibawaan pemerintah.

Orang Amerika menyebut langgam ini sebagai colonial style (gaya kolonial), sedangkan orang Inggris menamakannya imperial style (gaya imperium). Kelak langgam ini berkembang luas di berbagai kota Hindia, sempat mati, dan kemudian hidup lagi.

Merumpi di Serambi

Pegawai VOC lebih banyak menghabiskan waktu di dalam benteng kota. Selepas bekerja, mereka senang bercengkrama dengan tetangga atau rekan kerja di luar rumah, di bagian serambi depan rumah. Teh, arak, pipa rokok, sirih, pinang, dan panganan kecil tersedia di serambi untuk menemani penghuni dan tetamu rumah.

Orang VOC menyebut serambi depan sebagai stoep. “Beranda bertutup atap yang lazim di rumah-rumah penduduk asli,” catat Cor Passchier. Lebarnya sekira satu setengah meter dan ada beberapa kursi di dua sisinya. Di bagian ini pulalah mereka bisa merasakan kesejukan dari angin berembus hingga malam tiba.

“Barang siapa berjalan-jalan di Batavia di malam hari, pasti akan melewati sejumlah serambi yang penuh sesak dengan orang yang sibuk bercoloteh ria,” ungkap Hendrik. Serambi tersua pula di rumah-rumah Negeri Belanda. “Semua aktivitasnya adalah khas Asia,” lanjut Hendrik. 

Selain sebagai tempat bercengkrama dan mencari angin, serambi juga berfungsi sebagai ranah pribadi dan publik. Saat itu, orang-orang VOC jarang sekali menerima tamu di dalam rumah. Ruangan dalam rumah sangat privat. Tidak sembarang tetamu bisa memasuki ruang ini di tiap rumah milik orang VOC.

Serambi adalah juga batas antara jalan milik umum dengan kepemilikan pribadi. Pemisahan itu biasanya ditegaskan oleh pagar rendah di sekitar serambi dan bahan bangunan yang berbeda antara jalan umum dengan serambi. Keberadaan serambi terus bertahan hingga VOC masuk babak baru.


Share to: