Vertanews - Portal Berita Terbaru Berita Viral Terbaru
Foto
Kisah Menyakitkan NU dalam Pemilu di Zaman Orde Baru. Foto: NU.or.id

Kisah Menyakitkan NU dalam Pemilu di Zaman Orde Baru

Organisasi Islam terbesar di Indonesia Nahdlatul 'Ulama yang disingkat (NU) yang berdiri pada 31 Januari 1926 dan bergerak di bidang keagamaan, pendidikan, sosial, dan ekonomi bagi perkembangan bangsa Indonesia ini ternyata pernah memiliki pengalamat pahit dalam pemilu pertama di zaman Orde Baru.

Kala itu, menjelang Pemilu 1971, rezim Orde Baru mengerahkan tentara untuk menghabisi basis-basis NU. Banyak warga NU dari pedalaman Jawa Barat meninggalkan rumah-rumah mereka untuk menyelamatkan diri. Desa Losarang di Indramayu adalah desa yang paling menderita dan warganya paling banyak mengungsi ke kantor pusat PBNU di Jakarta.

“Saya menyaksikan rumah penduduk dan masjid dihancurkan. Di beberapa rumah yang kami masuki, kami melihat betapa rumah-rumah itu ditinggalkan dengan tiba-tiba oleh penghuninya. Di atas meja makan sebuah rumah, misalnya, masih ada piring nasi dan cangkir-cangkir kaleng. Di atas piring-piring itu berserakan makanan yang sudah membusuk. Memilukan sekali,” kata Panda Nababan dalam otobiografinya 'Menembus Fakta', seperti yang dilansir dari laman Historia.

Lantas, Panda Nababan pun menulis laporan tentang teror yang dialami pendukung NU di Indramayu dengan judul “Empatpuluh Lima Djam Bersama Orang Kuat NU”. Orang kuat NU dimaksud adalah Jusuf Hasyim. Tulisan itu dimuat di halaman satu dan direncanakan menjadi artikel yang berseri. Namun, akibat tulisan itu, Ia dijemput oleh tentara dan diancam bila tulisannya tak ditarik, dia akan dihabisi dan kantor berita Sinar Harapan akan diberedel.

Peristiwa yang terjadi di Desa Losarang, Indramayu itu adalah sebuah ironi. NU memainkan peran penting bagi lahirnya Orde Baru. Namun, NU justru dianggap sebagai penghalang dan kekuatannya secara sistematis digerogoti militer sejak Seminar Angkatan Darat tahun 1966 di Bandung.

Pemilu tahun 1971 adalah pemilu pertama di era Orde Baru. Menurut sejarawan Martin van Bruinessen dalam 'NU: Tradisi, Relasi Kuasa, dan Pencarian Wacana Baru', diketahui NU adalah partai paling kritis di antara partai-partai peserta pemilu 1971. 

Juru kampanye NU dengan keras menyerang intimidasi yang menimpa para anggotanya. Subchan ZE seorang tokoh NU, melakukan kampanye yang keras dengan menyerang Golkar dan beberapa tokoh penting seperti Ali Moertopo, asisten pribadi Presiden Soeharto, dan Menteri Dalam Negeri Amirmahmud.

Asisten pribadi Presiden Soeharto, Ali Moertopo juga memimpin Operasi Khusus yang mengendalikan berbagai organisasi dan partai politik untuk memenangkan Golkar. Amirmahmud juga dijuluki oleh NU sebagai menteri buldozer karena mengeluarkan Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 12 tahun 1969, yang merupakan muslihat pemerintah untuk meng-Golkar-kan pegawai negeri sipil.

Saat itu, masa kampanye dipenuhi dengan banyak intimidasi terhadap calon pemilih agar memilih Golkar. Langkah-langkah represif itu berhasil memenangkan Golkar dengan meraih 62,8 persen suara. Sementara total suara yang diraih partai-partai Islam hanya 27,1 persen: NU (18,7 persen), Partai Muslimin Indonesia atau Parmusi (7,3), Partai Syarikat Islam Indonesia atau PSII (2,3), dan Persatuan Tarbiyah Islamiyah atau Perti (0,7). Sisa suara dibagi lima partai peserta pemilu lainnya.

Diketahui setelah memenangkan pemilu, rezim Orde Baru memaksa partai-partai politik untuk berfusi. Empat partai Islam, NU, Parmusi, PSII, dan Perti, dilebur menjadi Partai Persatuan Permbangunan (PPP). Sedangkan lima partai lainnya, Partai Nasional Indonesia (PNI), Partai Kristen Indonesia (Parkindo), Partai Katolik, Ikatan Pendukung Kemerdekaan Indonesia (IPKI), dan Murba berfusi menjadi Partai Demokrasi Indonesia (PDI).


Share to: