Vertanews - Portal Berita Terbaru Berita Viral Terbaru
Foto
Suasana Sidang eks Dirut PT PLN Sofyan Basir di Pengadilan Tipikor/Vertanews/Ahmad Mikail Diponegoro

Sofyan Basir Didakwa Memfasilitasi Eni Maulani dan Idrus Marham

Terdakwa Kasus dugaan korupsi Mulutbang Riau-1 eks Direktur Utama PT PLN disebut dalam dakwaan telah membantu memfasilitasi Eni Maulani Saragih dan Idrus Marham untuk menemui dan menerima suap dari Johanes Budisutrisno Kotjo.  

Jaksa Penuntut Umum (JPU) KPK menilai bahwa Sofyan Basir dianggap memberikan bantuan dalam mengawal proyek ini bisa berjalan dengan lancar di dalam intansi PT PLN Persero. 

"Dengan sengaja memberi kesempatan, sarana, atau keterangan untuk melakukan kejahatan," kata JPU KPK Lie Putra Setiawan saat membacakan surat dakwaan dalam persidangan perdana kasus suap proyek PLTU Riau- 1 dengan tersangka Sofyan Basir di Pengadilan Tipikor Jakarta, Senin, 24 Juni 2019. 

Dalam perkara ini diketahui bahwa Eni merupakan mantan anggota DPR yang membantu Kotjo sebagai pengusaha mendapatkan proyek PLTU Riau-1 tersebut. Sementara, Idrus sebagai Sekjen Partai Golkar, pucuk partai dimana Eni Maulani menjadi kadernya. Diperkara yang sama Eni, Kotjo, dan Idrus sudah lebih dahulu divonis dalam perkara tersebut. 

Kasus PLTU Riau-1 terjadi ketika Kotjo sebagai pemegang saham Blackgold Natural Resources (BNR) Ltd ingin mendapatkan proyek di PT PLN Persero. Kemudian, Kotjo mengajak perusahaan dari China yaitu China Huadian Engineering Company (CHEC) Ltd untuk berinvestasi dalam proyek senilai 35000 megawatt (MW) tersebut.  

Namun keinginan dia tersebut itu terbentur akses ke PLN sehingga dia meminta bantuan Setya Novanto yang merupakan kawan lamanya. Melalui Novanto, Kotjo dikenalkan pada Eni Maulani Saragih sebagai anggota DPR yang membidangi energi, riset, teknologi, dan lingkungan hidup.  

"Eni Maulani Saragih menyampaikan kepada terdakwa (Sofyan Basir) bahwa ia ditugaskan oleh Setya Novanto untuk mengawal perusahaan Johanes B Kotjo dalam proyek pembangunan PLTU Riau di PT PLN guna kepentingan mencari dana untuk Partai Golkar dan Pileg Partai Golkar, untuk itu Eni Maulani Saragih meminta terdakwa melakukan pertemuan dengan Setya Novanto di rumah Setya Novanto, yang disanggupi oleh terdakwa," jelas jaksa. 

Dalam dakwaan Sofyan disebut sudah beberapa kali bertemu dengan Setya Novanto untuk membicarakan proyek tersebut. Termasuk dengan permintaan Sofyan Basir bisa mengandeng perusahaan milik anaknya Reza Herwindo. 

Saat itu, Sofyan sendiri didampingi oleh Direktur Pengadaan Strategis 2 PT PLN Supangkat Iwan Santoso. Dalam pertemuan itu, Novanto meminta proyek PLTGU Jawa III kepada Sofyan agar diberikan ke Kotjo. 

"Namun terdakwa menjawab jika PLTGU Jawa III sudah ada kandidat calon perusahaan yang akan mendapatkan proyek tersebut dan agar mencari proyek pembangkit listrik lainnya, selanjutnya Eni Maulani Saragih berkoordinasi dengan Supangkat Iwan Santoso terkait proyek PLTU Riau-1," ujar Lie Putra Setiawan. 

Tujuan dari koordinasi tersebut agar Eni tetap diperhatikan oleh Kotjo. Eni disebut jaksa penuntut umum telah menyampaikan kepada Idrus akan mendapatkan fee dari Kotjo untuk mengawal proyek PLTU Riau-1. Kotjo pun memberikan uang Rp 4,75 miliar secara bertahap kepada Eni untuk munaslub dan Pilkada Temanggung yang diikuti suaminya, Muhammad Al Khadziq. 

Atas perbuatannya itu Sofyan didakwa oleh jaksa KPK telah melanggar Pasal 12 huruf a juncto Pasal 15 Undang-Undang Pemberantasan Tipikor juncto Pasal 56 ke-2 KUHP dan Pasal 11 juncto Pasal 15 Undang-Undang Pemberantasan Tipikor juncto Pasal 56 ke-2 KUHP. (Ahmad Mikail Diponegoro)


Share to: