Vertanews - Portal Berita Terbaru Berita Viral Terbaru
Foto
Kisah Bung Karno dan Poligami. Foto: Dok. Istimewa

Kisah Bung Karno dan Poligami

Baru-baru ini ramai diperbincangkan mengenai pemerintah Aceh yang bakal segera melegalkan Poligami demi alasan untuk mengurangi praktik nikah siri yang marah terjadi di Serambi Mekkah.

Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Kabupaten Aceh Barat menyatakan sangat setuju dengan rencana Pemerintah Aceh terkait pelegalan tersebut.

"Poligami ini secara hukum Agama Islam memang sah (legal), akan tetapi selama ini belum diterapkan dalam aturan daerah. Jika aturan ini jadi diterapkan, kita (ulama) sangat mendukung," kata Ketua MPU Kabupaten Aceh Barat, Teungku Abdurrani Adian kepada wartawan, Sabtu, 6 Juli 2019.

Lantas, bagaimana dengan kisah Bung Karno yang terkenal dengan memiliki istri lebih dari satu? Layakkah disebut poligami atau tidak? 

Dalam novel biografi Inggit Garnasih karya Ramadhan K.H. yang berjudul "Kuantar ke Gerbang: Kisah Cinta Ibu Inggit dengan Bung Karno" (2014: 111). 

Sebuah pernyataan tegas terlontar dari mulut Inggit Garnasih di hadapan Sukarno, Muhammad Natsir dan Ahmad Hassan, saat keempatnya tengah membahas orasi yang menentang hukum Islam tentang Poligami.

Istri Pertama Bung Karno Tidak Setuju Poligami

“Kalau soal poligami, pendeknya saya tidak setuju. Yang pasti, saya tidak mau dimadu.” kata Inggit.

Ketika bung Karno diasingkan ke Bengkulu oleh kolonial Belanda, Inggit mulai merasakan hubungan khusus antara Bung Karno dengan Fatmawati. Rumah tangga Sukarno-Inggit menjadi sering diwarnai dengan pertengkaran.

Bung Karno sendiri telah berterus terang kepada Inggit mengenai keinginannya untuk mempunyai anak yang tidak mungkin diperolehnya dari Inggit.

Bung Karno menyampaikan tekadnya untuk tidak akan menceraikan Inggit dan akan menempatkan perempuan tegar itu dalam kedudukan yang terhormat karena pria yang akrab disapa Kusno oleh Inggit itu merasa Inggit telah menemaninya dalam derita perjuangan.

Jalan tengah pun pernah ditawarkan oleh Soekarno, yaitu biarlah Inggit yang mencarikan istri kedua untuk Bung Karno. Tawaran itu ditolak mentah-mentah oleh Inggit.

Oleh karena tidak ada titik temu,  pada permulaan tahun 1940-an, Sukarno dan Inggit akhirnya bercerai.

Menikahi Fatmawati

Setelah Kusno jadi orang terpandang di Jakarta, Fatimah yang masih gadis belia itu diboyong ke Pegangsaan Timur 56 untuk jadi istri Kusno. Nama Fatimah menghilang berganti Fatmawati. Inggit tentu saja sudah angkat kaki dari rumah itu.

Selang beberapa tahun kemudian, waktu Fatmawati sudah memberi lima anak untuk Sukarno—dua di antaranya bahkan laki-laki, ternyata... Fatmawati belum cukup baginya. 

Ingin Menikahi Hartini ketika Guruh berusia 2 hari

Dalam 'Catatan Kecil Bersama Bung Karno-Volume 1 ' (1978:80). Pada tahun 1953, sebuah kabar tidak baik menimpa Fatma. Pernah suatu kali, waktu umur anak bungsu mereka, Guruh Soekarnoputra, baru berusia 2 hari, Sukarno dengan tenang bicara pada istrinya di tempat tidur.

“Fat, aku minta izinmu, aku akan kawin dengan Hartini." ujar Bung Karno kepada Fatmawati.

Jelas saja kata-kata tersebut jelas menyakitkan karena hampir semua wanita pada dasarnya tak mau diduakan.

Fatmawati pun membalas:

“Boleh saja, tapi Fat minta dikembalikan pada orangtua. Aku tak mau dimadu dan tetap anti poligami.”

Bukan Sukarno namanya jika menyerah pada ancaman wanita. Ia langsung mengeluarkan jurus mautnya: 

“Tetapi aku cinta padamu dan juga aku cinta pada Hartini.” kata Soekarno.

Fatmawati tetap berteguh pada pendiriannya dan membantah pada suaminya yang kasmaran itu:

“Oo, tak bisa begitu!” katanya. 

Rumor Bung Karno 'Dekati' Istri Orang

Menurut Peter Kasenda dalam "Bung Karno: Panglima Revolusi" (2014), ketika Bung Karno dan Hartini mulai dekat, Hartini masih berstatus istri orang. Namun, Hartini membantah hal itu (hlm. 264). 

Sementara itu menurut Rosihan Anwar dalam "In Memoriam: Mengenang Yang Wafat" (2002), Bung Karno rupanya kepincut dan berpacaran dengan seorang janda ketika Fatma tengah mengandung Guruh Soekarnoputra (hlm. 391-394). 

Jauh sebelum Hartini berstatus janda, Hartini adalah istri dari seorang dokter bernama Soewondo. Suaminya adalah kenalan Kolonel Gatot Subroto. 

Diketahui Hartini menikah dengan sang dokter dalam usia yang masih muda. Perkawinan yang membuahkan lima anak itu akhirnya bubar. 

Sukarno bertemu pertama kali dengan Hartini di Candi Prambanan. Gatot Subroto lah orang yang menjadi perantara perkenalan itu. Ketika berkenalan, Hartini tentu saja tahu jika Sukarno bukan laki-laki lajang.

Meski istri sah Bung Karno, Fatmawati bersikeras menolak untuk di madu, Bung Karno pantang mundur untuk kawin dengan Hartini. Saat itu, umur Hartini masih 28, sementara Sukarno sudah kepala lima. 

Hartini akhirnya dinikahi oleh Bung Karno pada 7 Juli 1953 di Istana Cipanas, Jawa Barat. Usia keduanya terpaut 23 tahun. Bertindak sebagai wali nikah adalah kepala pasukan pangawal pribadi presiden, Mangil Martowidjojo.

Mengetahui kabar tersebut, Fatmawati merasa begitu dongkol bukan kepalang, hingga ia memutuskan angkat kaki dari Istana Negara. Ia memilih tinggal di Jalan Sriwijaya, Jakarta Selatan. 

Meski demikian, Fatmawati tidak bisa mendapat hak cerai dari Sukarno yang sudah terlanjur menikah dengan Hartini. Bagaimanapun, Fatmawati adalah ibu dari lima anak pertama Sukarno. Apa yang terjadi setelahnya adalah Fatmawati tetap jadi first lady (ibu negara).

Tidak hanya terbagi dua, Cinta Sukarno ternyata terbagi lebih dari itu. Birahi laki-laki kelahiran Surabaya ini memang begitu tinggi. "I need sex everyday," kata Sukarno pada suatu kali kepada Cindy Adams, penulis autobiografinya. 

Menikahi Ratna Sari Dewi

Ratna Sari Dewi yang memiliki nama lahir Naoko Nemoto pertama kali berjumpa dengan Sukarno saat usianya masih 19 tahun, yakni pada 1959. Kala itu, dikutip dari The Japanese and Soekarnos Indonesia (1975) yang ditulis Masashi Nishihara, Bung Karno memang sering berkunjung ke Jepang untuk mengurus masalah ganti-rugi perang.

Beberapa bulan setelah pertemuan di Tokyo itu, Sukarno mengundang Naoko ke Indonesia. Naoko datang ke Jakarta pada 14 September 1959 dan diterima dengan hangat. 

Hubungan keduanya pun bertambah dekat. Dan akhirnya, pada 3 Maret 1962, Bung Karno menikahi Naoko. Naoko pun memeluk Islam, dan, seperti diungkapkan Rhien Soemohadiwidjojo dalam buku Bung Karno Sang Singa Podium (2013), namanya diganti menjadi Ratna Sari Dewi.

Bung Karno bertemu Hayati

Haryati adalah seorang penari istana sekaligus staf Sekretaris Negara Bidang Kesenian. Karena profesinya itu, Haryati menjadi dekat dengan sang proklamator.

Soekarno pun terus menerus berusaha memikat hati Haryati yang kala itu berusia 23 tahun.

Pernikahan Soekarno dan Hayati berlangsung pada 21 Mei 1963. Namun, pernikahan mereka hanya berlangsung selama 3 tahun.

Organisasi Perempuan Menuntut Pemerintah Bentuk UU Perwakinan

Pada tahun 1952, 19 organisasi perempuan menentang apa yang disebut Saskia Wieringa dalam Penghancuran Gerakan Perempuan sebagai “pemborosan uang negara untuk mengongkosi poligami”. Suara menolak ini dilanjutkan dengan demonstrasi besar pada 17 Desember 1953 yang menuntut pemerintah merancang ulang UU Perkawinan yang sesuai Pancasila. 


Share to: