Vertanews - Portal Berita Terbaru Berita Viral Terbaru
Foto
Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional sekaligus Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional Bambang Brodjonegoro/Antaranews

Kepala Bappenas Kaji Pemindahan Ibukota Indonesia Dari Brasil

Jelang tahun 2024 mendatang Indonesia diprediksi akan melaksanakan program pemindahan ibukota negara ke pulau terluar di luar Pulau Jawa. Nantinya, Indonesia akan didesain akan melakukan pemisahan antara ibukota negara dengan pusat tata niaga perekonomian. 

Artinya DKI Jakarta yang semula menjadi Pusat Tata Niaga perekonomian sekaligus Ibukota Negara menjadi berbeda lokasinya. 

Menyeriusi usulan Presiden Joko Widodo (Jokowi) tersebut Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional sekaligus Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional Bambang Brodjonegoro melakukan studi banding dengan mendatangkan Pemerintah Republik Brasil ke kantornya. 

Bambang Brodjonegoro mengatakan tidak ada permasalahan serius terhadap ibukota negara Indonesia akan dipindahkan dengan bercermin dari Brasil. 

"Pemindahan secara konkret otomatis kita harus belajar dari negara yang sudah melakukannya. Brasil ini sudah berhasil sejak tahun 1980-an," kata Bambang Brodjonegoro dikutip dari Antaranews di Kantor Bappenas di Menteng, Jakarta Pusat, Rabu, 10 Juli 2019. 

Menurut Bambang pemerintah Brasil sudah lebih dulu melakukan pemindahan ibukota pada 1960. Saat itu mandatori ini ditandatangani oleh Presiden Brasil Juscelino Kubitchek membuat keputusan besar dengan memindahkan ibukota dari Rio de Janeiro ke Brazilia. 

Bambang menambahkan bahwa pemindahan ibukota negara bertujuan untuk menyiapkan era abad 21 mendatang. Apalagi saat itu penyebaran penduduk di Brazil dinilai tidak merata. 

Kala itu Presiden menilai perekonomian tersentralisasi di Rio De Janeiro dan Santos. Sementara untuk pedalaman Hutan Amazon mengalami ketertinggalan peradaban dibandingkan dengan wilayah pantai. 

"Untuk itu kita juga berupaya meratakan pembangunan antara Jawa dan luar Jawa. Ketimpangan pendapatan dan ekonomi ini yang harus kita atasi, paling tidak kita dapat mengurangi ketimpangan tersebut," ucap Bambang. 

Menambahkan pernyataan Bambang, Duta Besar Brasil untuk Indonesia Rubem Barbosa searah dengan pemikiran Bambang. 

"Saat ini Brazilia merupakan kota dengan pendapatan per kapita tertinggi di Brazil. Itu sama sekali tidak direncanakan. Selain itu, sekarang juga menjadi tujuan utama migrasi penduduk. Sebagian besar penduduk dari utara. Termasuk Rio de Janeiro datang ke Brazilia. Intinya pemerintahan menarik minat banyak sekali orang," ucap Barbosa. 

Barbosa menuturkan bahwa ada perbedaan luas wilayah antara Indonesia dengan Brazilia. Dia menuturkan bahwa saat membangun Brazilia dari awal saat itu Brazilia masuk ke dalam pedalaman Brazil. Perlahan-lahan mulai dibangun rel kereta api. Saat itu penduduk Brazilia hanya 1 juta penduduk kini menjadi 3,3 juta penduduk. (DNM)


Share to: