Foto
Kawasan Jakarta. Foto: Antara

Kualitas udara di DKI Jakarta akhir-akhir ini menjadi sorotan publik. Persoalan kualitas udara di Jakarta tersebut menjadi sorotan tajam setelah AirVisual, sebuah pemantau internasional, merilis hasil pemantauannya dalam sebuah aplikasi mobile.

AirVisual, pemantau kualitas udara internasional kembali merilis kualitas udara di Jakarta, Selasa, 13 Agustus 2019, pukul 08.00 WIB. Enam wilayah di Jakarta tercatat memiliki kualitas udara tidak sehat.

Beberapa kali bahkan, AirVisual berhasil membuat warga Jakarta dan sekitarnya merasa cemas dengan buruknya kualitas udara yang dilaporkan.

Terdapat enam kategori menurut AirVisual terkait kualitas udara, masing-masing yaitu dengan AQI 0-50 baik, 51-100 sedang, 101-150 tidak sehat untuk kelompok rentan, 151-200 tidak sehat, 201-300 sangat tidak sehat, 301-500 berbahaya.

Beberapa kali Jakarta dilaporkan AirVisual memiliki kualitas udara yang tidak sehat, yakni pada 28, 29 dan 30 Juli 2019 dengan AQI 166, 161, dan 160.

Persoalan polusi udara sejatinya bukan hanya menjadi persoalan Jakarta sebagai Ibukota negara, namun juga menjadi persoalan kota-kota lainnya yang menjadi sebuah nasib Ibukota yang metropolis, dan cenderung antroposentris.

Lebih luas dari sekedar polusi sebagai pemicu kerusakan lingkungan. Manusia dan hubungannya dengan lingkungan dan alam semesta di era manusia masa kini telah dipersoalkan oleh banyak pemikir.

Menurut salah satu pemikir lingkungan Fritjof Capra, cara pandang manusia saat ini terhadap alam semesta dipengaruhi cara pandang yang terlampau rasional. Kesalahan paradigma Antroposentrisme yang memandang manusia sebagai pusat realitas, sementara alam semesta dipandang tidak mempunyai nilai intrinsic, selain nilai instrumental ekonomis bagi kepentingan ekonomi.

Fritjof Capra berkesimpulan, alam semesta seharunya dipandang sebagai sebuah kesatuan yang menyeluruh, sating terkait dan menunjang satu sama lain untuk memungkinkan kehidupan di alam semesta dapat berkembang.

Fisikawan Amerika yang lahir di Austria kelahiran 1 Februari 1939, itu menjadi direktur pendiri Center for Ecoliteracy di Berkeley, California, menulis beberapa buku, termasuk The Tao of Physics (1975), The Turning Point (1982), Uncommon Wisdom (1988), The Web of Life (1996), The Hidden Connections (2002) dan The Systems View of Life (2014).

Fritjof Capra mengungkap bahwa paradigma ekologis, keterkaitan, ketidakterpisahan, saling pengaruh, jaringan, independensi adalah kenyataan hidup dan hakikat dari alam semeta itu sendiri. Capra juga berpandangan saling hubung dan saling ketergantungan esensial semua fenomena fisik, biologis, psikologis, sosial dan kultural.

Masyarakat Ibukota yang menjadikan keuntungan secara ekonomi sebagai tujuan hidup nampaknya perlu dicermati oleh seluruh pihak, baik pemerintah, maupun masyarakat umum yang hidup di dalamnya.

Kebijakan-kebijakan yang mendasar harusnya menjadi perhatian pemerintah guna kelangsungan hidup manusia di masa yang akan datang.

Yang menarik dicermati adalah alih-alih masyarakat kota yang mendambakan kebahagiaan dari sisi kualitas ekonomi, namun justru terjerumus dalam kerugian ekonomi.

Seperti halnya Ibukota Jakarta yang dipersepsikan sebagai penggerak ekonomi negara. Namun, mencengangkan jika melihat pernyataan Staf Khusus Presiden, Ahmad Erani Yustika.

Dia mengatakan inefisiensi yang terjadi pada Jakarta diperkirakan bisa menyentuh Rp 100 triliun per tahun. Hal ini tentu tak bisa dibiarkan terus berlanjut.

"Di Jakarta inefisiensi akibat kemacetan saja, termasuk polusi dan seterusnya, itu Rp 80-100 triliun setiap tahunnya. Pemborosan itu sudah bukan masanya lagi bagi kita untuk mengkompromi. Akan lebih murah bila anggaran itu dipakai untuk pemindahan ibu kota dan program lain," kata dia di Jakarta, Sabtu, 4 mei 2019.

Polusi Udara Pengaruhi Kesehatan Mental

Selain fakta merugikan secara ekonomi, polusi udara juga ternyata merugikan manusia itu sendiri dari sisi mental.

Sebuah studi yang diterbitkan dalam jurnal Psychiatry Research, anak-anak yang tinggal di daerah dengan polusi udara tinggi lebih mungkin mengalami depresi berat pada usia 18 tahun, seperti dikutip dari Theguardian, Selasa, 13 Agustus 2019.

Dalam laporan itu disebutkan, para remaja berpotensi lebih besar tiga sampai empat kali lipat mengalami depresi pada usia 18 tahun jika mereka terpapar udara yang lebih kotor pada usia 12 tahun.

Selain itu, polusi udara juga menyebabkan pengurangan kecerdasan yang 'sangat besar', menurut penelitian. Temuan tersebut dinilai sangat penting karena 75 persen masalah kesehatan mental dimulai pada masa kanak-kanak atau remaja, ketika otak berkembang pesat. 

"Tingkat polusi udara yang tinggi tidak baik untuk Anda, dan terutama untuk anak-anak Anda, baik itu fisik atau mental," kata Helen Fisher di Kings College London, yang memimpin penelitian.

Pemindahan Ibukota ke Kalimantan

Salah satu wacana pemerintah mengatasi persoalan tersebut adalah pemindahan Ibukota. Namun hingga kini, wacana tersebut masih terus dimatangkan oleh pemerintah.

Presiden Joko Widodo (Jokowi) bahkan menyatakan beberapa kajian meskipun belum selesai 100 persen, saat ini pilihan pemindahan ibu kota sudah semakin mengerucut. Ia memastikan bahwa ibu kota akan pindah ke Kalimantan.

“Provinsinya dimana, ini yang harus didetailkan lagi,” kata Jokowi saat memberikan pengantar pada Rapat Terbatas mengenai Pemindahan Ibu Kota, di Kantor Presiden, Jakarta, Selasa, 6 Agustus 2019, dikutip dari laman Setkab.

Jokowi bahkan mengingatkan, kajian-kajian terkait kebencanaan, daya dukung lingkungan, keekonomian, dari sisi demografi, sosial politik, pertahanan keamanan, semuanya harus dilihat lebih detil lagi sehingga keputusan nanti adalah keputusan yang benar dalam visi ke depan bangsa.

Namun yang perlu dicermati dalam persoalan pemindahan ibukota itu adalah persoalan manusia sebagai individu. Individu yang sadar bahwa alam semesta dalam hal ini lingkungan saling hubung dan saling ketergantungan esensial semua fenomena fisik, biologis, psikologis, sosial dan kultural.

Bagaimana pun, Ibukota hanyalah alat, sementara manusia sebagai personal adalah pengendara.

Jika tidak, bukan mustahil pemindahan Ibukota hanya sebatas memindahkan manusia sakit di atas sebuah kendaraan baru, tidak ada yang berubah. Bisa jadi program tersebut hanya memindahkan lahan eksplorasi dan eksplotasi lingkungan oleh manusia dengan kondisi mental yang sama.


Share to: