Vertanews - Portal Berita Terbaru Berita Viral Terbaru
Foto
Foto: Dokumentasi ayobandung.com

Women Trafficking, Menjadi Polemik yang Terus Berulang

Sebanyak 10 remaja perempuan asal Kabupaten Bandung telah menjadi korban perdagangan (human trafficking) orang di Situbondo, Jawa Timur, beberapa waktu lalu. Mereka berhasil ditemukan oleh jajaran aparat Polres Situbondo di sejumlah wisma bekas lokalisasi Gunung Sampan di Desa Kotakan. (Republika.co.id, 29 Juli 2019)

Lagi, Kabar miris yang kerap mengisi halaman berita di media cetak, daring, maupun elektronik. Dari lingkup lokal, nasional, hingga mancanegara kasus trafficking seolah tak ada habisnya. 

Jika ditelusuri, sebenarnya banyak kalangan yang menganalisis terkait akar permasalahan ini dan berusaha untuk menarik benang merahnya hingga didapat solusi dalam penyelesaian kasusnya. Mulai dari masalah kesejahteraan perempuan yang kerap dituding sebagai penyebab, maka pemerintah dalam hal ini senantiasa berupaya menjadikan kaum perempuan untuk dapat mandiri dari sisi ekonomi.

Dengan mekanisme pemberdayaan perempuan sebagai salah satu upaya penyelesaiannya. Ada juga yang beranggapan bahwa tingkat pendidikan lah yang menyebabkan para wanita senantiasa dirundung malang menjadi korban trafficking yang tak berkesudahan. 

Nyatanya kini banyak kalangan wanita yang sudah melek pendidikan namun yang terjadi kasus demi kasus tetap berulang dan seterusnya. Di tataran lain ada yang berpendapat bahwa permasalahan perempuan tentu akan mampu dipahami oleh sesamanya, maka mereka menduga bahwa dengan dimajukannya para wanita terdidik untuk menjadi anggota legislatif akan memberi angin segar penyelesaian kasus yang menimpa sesama mereka. 

Nyatanya? Meski saat ini keterwakilan perempuan di bangku legislatif telah makin banyak dari sebelumnya tetap saja tidak dapat menekan kasus ini. 

Beragam upaya yang telah dilakukan oleh banyak pihak adalah sebagai bukti adanya niat baik untuk menghilangkan kasus yang terjadi. Namun kita tetap mendapati masalah trafficking ini seolah tak pernah berkesudahan. 

Kita tentu membutuhkan satu formula solusi dari problematika ini. Sudut pandang penyelesaian masalah yang belum disentuh adalah solusi Islam.  

Islam memandang bahwa setiap permasalahan kehidupan itu apapun bentuknya adalah hasil dari ketidaktundukan atau maksiat kepada Sang Pemilik jagat raya. Padahal aturan-Nya menyentuh semua lini kehidupan. 

Maka terkait trafficking sendiri lebih sering terjadi karena sistem di alam kapitalis demokrasi semua hal seolah bisa dijadikan komoditas yang dapat diperjualbelikan. Adanya prinsip supply and demand di mana jika ada pihak yang membutuhkan maka di sana akan ada sebagian kalangan yang berupaya menyediakannya.

Halal dan haram tak menjadi patokan. Diperparah dengan kondisi kemiskinan sistemik yang ada di tengah masyarakat mendorong sebagian mereka yang membutuhkan perbaikan taraf kehidupan seolah mendapat angin segar ketika diiming-imingi dengan satu harapan: kesempatan kerja. Padahal yang terjadi justru mereka masuk ke dalam perangkap jahat mafia trafficking. Lemahnya ranah sistem hukum pun turut andil menjadikan para mafia trafficking demikian leluasa beroperasi menjalankan usaha haramnya. 

Maka jika merunut dari pemaparan di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa solusinya hanyalah dengan kembali pada aturan yang berasal dari Zat Yang Maha Pencipta dan Maha Mengetahui hakikat kebaikan dan keburukan bagi setiap ciptaan-Nya. Yakni aturan syariat yang dijalankan secara menyeluruh. Syariat Islam memandang bahwa segala hal mesti ditimbang dalam kerangka halal haram. Maslahat (manfaat) bukan merupakan patokan layaknya dalam pemikiran kapitalis sekuler. 

Maka segala hal yang haram dalam pandangan syariat tak akan mendapat tempat meski di dalamnya ada manfaat dari sisi materi sekalipun. Terkait kemiskinan sesungguhnya Islam memberi tanggung jawab pada pemimpin (khalifah) untuk mengurus (riayah) setiap individu masyarakat yang ada di bawah kewenangannya. Sebagaimana hadits yang disampaikan oleh Baginda Rasulullah Saw,  

Artinya: “Ingatlah, setiap orang dari kalian adalah pemelihara dan setiap orang dari kalian bertanggung jawab atas pemeliharaannya. Pemimpin yang memimpin masyarakat adalah pemelihara dan dia bertanggungjawab atas rakyatnya.” (HR al-Bukhari, Muslim, Abu Dawud, at-Tirmidzi dan Ahmad) Pemimpin tidak akan tinggal diam dengan kondisi kemiskinan yang menjerat rakyatnya. Ia akan berupaya menyelesaikannya dengan tatacara yang sesuai dengan syariat hingga didapat bahwa tak ada satupun rakyatnya yang kekurangan dari sisi kebutuhan asasi individu maupun kolektif. 

Dari dimensi hukum, Islam memiliki seperangkat sistem aturan (Nizamul 'Uqubat) yang demikian adil dan tak pandang bulu. Tak mempan dengan segala sogokan harta duniawi sehingga menjadikannya demikian bertaji di mata masyarakat seluruhnya. Ia bersifat jawazir (pencegah terjadinya tindak kriminal yang baru terulang kembali) dan jawabir (penebus dari siksa di akhirat terkait dosa atas aktivitas tersebut). 

Dengan seperangkat sistem aturan yang komprehensif dalam Islam sudah barang tentu setiap kasus kriminalitas dan segala hal yang melanggar dalam pandangan agama tak akan dibiarkan, termasuk kasus trafficking baik atas perempuan, lelaki, anak-anak maupun orang dewasa akan segera teratasi dengan sempurna. Betapa indahnya hidup dalam naungan syariat-Nya.

Sumber: ayobandung.com


Share to: